Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Pangkalpinang hadir dalam pertemuan tindak lanjut dalam mendukung implementasi Kampung Bebas Jentik (KBJ) pada tanggal 2 April 2026 di Puskesmas Air Saga Kabupaten Belitung. Kegiatan pertemuan tindak lanjut ini dihadiri oleh Wakil Bupati Kabupaten Belitung; Syamsir, S.I.Kom, perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten, perwakilan puskesmas di Kabupaten Belitung, serta perwakilan lintas sektor terkait.
Kampung Bebas Jentik (KBJ) merupakan salah satu strategi berbasis pemberdayaan masyarakat dalam upaya pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus yang dilakukan secara rutin, mandiri, dan berkelanjutan. Program ini menitikberatkan pada perubahan perilaku masyarakat serta penguatan peran kader jumantik sebagai ujung tombak pengendalian vektor di tingkat rumah tangga.
Informasi penting disampaikan oleh perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung yang menyampaikan bahwa masih ditemukan kasus DBD di hampir seluruh wilayah kerja puskesmas di Belitung. Meski telah terjadi penurunan kasus DBD dibandingkan tahun sebelumnya, namun potensi peningkatan kasus masih tetap ada sehingga diperlukan penguatan upaya pengendalian vektor berbasis masyarakat.
Selain informasi tersebut, disampaikan pula capaian Angka Bebas Jentik (ABJ) Kabupaten Belitung tahun 2025 yaitu sebesar 42% dan mengalami peningkatan sebesar 56% pada Februari 2026. Sayangnya, capaian tersebut masih berada di bawah target nasional sebesar ≥95%, sehingga diperlukan implementasi Kampung Bebas Jentik melalui penguatan kegiatan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) 3M Plus (Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang, ditambah perlindungan ekstra) dan G1R1J (Gerakan 1 Rumah 1 Juru Pemantau Jentik) secara rutin.
Rendahnya kesadaran masyarakat dalam melaksanakan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) mandiri, ketergantungan masyarakat terhadap fogging, kondisi lingkungan yang masih terdapat genangan air, serta keterbatasan anggaran untuk kader Jumantik (Juru Pemantau Jentik) merupakan beberapa permasalahan yang dihadapi dalam implementasi Kampung Bebas Jentik.
Sementara itu, Perwakilan Puskesmas Badau menyampaikan bahwa implementasi Kampung Bebas Jentik (KBJ) di Desa Kacang Butor telah menunjukkan peningkatan Angka Bebas Jentik (ABJ) setelah dilakukan kegiatan pemantauan jentik secara berkala. Meski masih terdapat kendala yang dihadapi yaitu keterbatasan pendanaan untuk operasional kader.
Wakil Bupati Kab.Belitung: Syamsir, S.I.Kom menyambut baik kegiatan pertemuan ini dan berharap bahwa Kampung Bebas Jentik yang telah diimplementasikan di Desa Kacang Butor dapat menjadi percontohan dan diperluas ke wilayah lain di Kabupaten Belitung.
Hasil pertemuan ini menghasilkan sejumlah kesepakatan, antara lain perluasan lokus KBJ di setiap wilayah kerja puskesmas, penguatan peran kader jumantik, serta peningkatan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah juga menyatakan komitmennya untuk mendukung keberlanjutan program sebagai upaya menurunkan risiko penularan DBD di Kabupaten Belitung.
BKK Pangkalpinang pun menyampaikan komitmennya untuk mendukung program KBJ, khususnya di wilayah yang berbatasan dengan pintu masuk negara yaitu pelabuhan dan bandara. Dukungan tersebut meliputi penyediaan tenaga entomolog yang kompeten untuk edukasi, pelatihan, serta pendampingan teknis dalam surveilans dan pengendalian vektor. BKK Pangkalpinang juga akan memperkuat koordinasi lintas sektor guna memastikan upaya pengendalian penyakit berbasis vektor berjalan optimal dan berkelanjutan.
Dengan sinergi antara pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, dan BKK Pangkalpinang, diharapkan implementasi Kampung Bebas Jentik dapat berjalan optimal serta berkontribusi dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat di wilayah Kabupaten Belitung.
Butuh Informasi Lebih Lanjut ?