BKK PANGKALPINANG

Kenali Nyamuk Aedes aegypti Pembawa Virus Dengue Penyebab Demam Berdarah

Aedes aegypti adalah nyamuk yang dikenal sebagai vektor utama penular virus dengue, penyebab penyakit demam berdarah. Virus ini ditularkan melalui gigitan nyamuk betina yang telah terinfeksi. Selain demam berdarah, Aedes aegypti juga membawa virus lain seperti demam kuning (yellow fever), zika, dan chikungunya. Spesies ini tersebar luas di seluruh daerah tropis di dunia, termasuk Indonesia.

 

Morfologi dan Siklus Hidup

Aedes aegypti mengalamai metamorfosis sempurna yang terdiri dari empat tahapan: telur, larva, pupa dan nyamuk dewasa. Telur membutuhkan 7-10 hari untuk berkembang menjadi nyamuk dewasa.

 

Telur

  • Nyamuk betina bertelur di dinding bagian dalam tempat penampungan air, di atas permukaan air, mampu bertelur sebanyak 80-100 butir
  • Telur menempel di dinding penampungan seperti lem, dapat bertahan lama hingga 8 bulan.

Larva

  • Larva hidup di dalam air, menetas dari telur ketika air pada tempat penampungan air menutupi telur
  • Dapat dilihat di dalam ai dan sangat aktif, sering disebut “wiggler”
  • larva terdiri dari 4 stadium yaitu instar I-IV
  • Membutuhkan waktu ±7-9 hari untuk menjadi pupa
  • Ciri khas larva memiliki siphon (alat pernapasan yang pendek dan silindir

Pupa (kepompong)

  • kepala-dada lebih besar dibandingkan perutnya, tampak seperti tanda baca ‘’koma’’
  • Hidup di dalam air dan tidak makan
  • Siphon berbentuk terompet dan terdapat sepadang paddle (alat pengayuh) untuk berenang
  • Membutuhkan waktu 1-2 hari untuk menjadi nyamuk dewasa

Nyamuk Dewasa

  • Nyamuk betina menggigit orang dan hewan, membutuhkan darah untuk menghasilkan telur
  • Setelah menghisap darah, nyamuk betina mencari sumber air untuk bertelur
  • Aedes aegypti lebih suka tinggal berdekatan dengan orang, hidup di dalam dan luar ruangan
  • Tubuh berwana dominan hitam kecoklatan dengan bercak putih di bagian badan dan kaki
  • Umur nyamuk Jantan <1 mingggu, betina hingga 2-3 bulan

Kebiasaan menggigit dan resting

Nyamuk Aedes aegypti besifat anthropofilic (lebih suka menghisap darah manusia) dan endophilic (lebih suka hidup di dalam rumah). Aktivitas menggigit pada pagi dan petang hari, puncaknya antara 09.00-10.00 dan 16.00-17.00. Suka beristirahat ditempat yang gelap dan lembab, di dalam maupun di luar rumah seperti pada di dalam lemari, hiasan kain, dibalik tirai atau gorden, di bawah furniture, wastafle.

 

Penularan virus dari nyamuk ke Manusia

Demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue (DENV), merupakan single-stranded RNA, famili Flaviviradae.  Virus dengue ditularkan dari seorang penderita (viremi) ke orang lain melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Virus melakukan replika pada lapisan epitel midgud (usus tengah) nyamuk dan kemudian menginfeksi kelenjar liur (salivary glands), masa inkubasi ekstrinsik ini membutuhkan waktu sekitar 8-10 hari. Nyamuk Aedes aegypti tersebut telah siap untuk menularkan virus dengue serta akan menjadi infektif selama hidupnya.  Selain nyamuk Aedes aegypti, Aedes albopictus juga berpotensi untuk menularkan virus dengue pada manusia. Dengan memahami morfologi, siklus hidup, kebiasaan hidup nyamuk Aedes aegypti, serta cara penularan virus dengue pada manusia, maka kita bisa lebih hati-hati dalam menjaga kesehatan dan menciptakan rasa aman dari penyakit demam berdarah.

 

Penulis  : Jepri Pranata, A.Md.KL

Referensi :

  1. Kemenkes RI. 2017. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Jakarta: Ditjen P2P Kemenkes RI.
  2. Center for Diseases Control and Prevention (CDC). Life Cycle of Aedes Mosquitoes.https://www.cdc.gov/mosquitoes/about/life-cycle-of-aedes-mosquitoes.html#print
  3. Indriani, Devi Ariska. 2018. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepadatan Jentik Aedes aegypti Di Kelurahan Munggut Dan Wungu Wilayah Kerja Puskesmas Wungu Kabupaten Madiun. Skripsi Peminatan Kesehatan Lingkungan Program Studi Kesehatan Masyarakat Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun
  4. Putri, I. A. 2015. Hubungan Tempat Perindukan Nyamuk Dan Perilaku Pemberantasan Sarang Nyamuk Dengan Keberadaan Jentik Aedes Aegypti. Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Ilmu Kesehatan.
  5. Susanna, D. 2011. Entomologi Kesehatan. UI Press. Jakarta